Kebebasan Berpikir Bentuk Kebablasan

Jauh sebelum saya menulis artikel sederhana ini saya memahami dengan sepuh hati, bahwa apa yang saya tulis belum tentu di setujui oleh sebagian orang. Tidak bisa kita sangkal,

Kebebasan Berpikir Bentuk Kebablasan

Jauh sebelum saya menulis artikel sederhana ini saya memahami dengan sepuh hati, bahwa apa yang saya tulis belum tentu di setujui oleh sebagian orang. Tidak bisa kita sangkal, bahwa setiap sesuatu akan selalu menuai kontroversi bagi orang lain. Saat sebagian pihak sepakat maka selalu saja ada pihak lain yang tidak sepakat tentang hal-hal tersebut.

Untuk membahas ini, saya ingin memulai dengan sebuah kisah seorang filsuf yang menolak untuk dijadikan seorang guru besar di Universitas Haidelberg. Baruch Spinoza namanya. Satu alasan yang diberikan terhadap penolakan tawaran itu (yang menurut saya cukup untuk mengantarkan penjelasan tulisan ini) adalah dia menolak karena dia khawatir ketika menjadi guru besar di universitas tersebut kebebasan berpikirnya terhambat. Kalau dipikir dalam zona nyaman, tentu penolakan dengan alasan tersebut merupakan penolakan yang bodoh. Di Indonesia, banyak doktor yang berlomba-lomba untuk menjadi guru besar tapi Baruch Spinoza malah memiliki prinsip yang berbeda.

Dalam permaslahan yang akan di bahas, maka saya berusaha menempatkan diri dalam posisi netral, jika sebagian memilih untuk menjadi kubu pendukung dalam kebebasan berpikir dan menulis maka hal tersebut juga harus di iringi dengan menghargai pilihan sekelumpuk orang yang menggaris bawahi pemikiran-pemikiran dengan sejumlah ketentuan.

Saya melihat tentang sejumlah generasi pembaharuan yang menyuara kan kebebasan, kebebasan dalam berpikir, kebebasan dalam memahami makna arti apa yang harus di kerjakan dalam kehidupan. Gerakan ini seolah di dukung oleh para pemikir-pemikir yang terlihat dari kalangan intelek, atau bisa juga sebenarnya kalangan yang kebablasan, hingga sejumlah aturan di anggap menjadi penjara dalam berpikir, berkreatifitas, dan menyuarakan pendapatnya.

Sementara sebenarnya kaitan antara kebebasan berpikir dan kebebasan dalam menulis ada sangkut pautnya dengan sejumlah tulisan yang menyandarkan diri dengan konsep kebebasan dalam berpikir, mungkin melalui sebuah tulisan mereka ( yang berada di zona kebebasan ) menganggap mampu mengaplikasikan kebebasan berfikir mereka.

Memahami Di Balik Aturan Dalam Cara berpikir.

Cara berfikir yang di atur kadang di anggap sebuah doktrin yang seolah memenjarakan kebebasan dalam berpikir ( sayangnya jika sebuah aturan atau standar berpikir di anggap sebagai penghalang berpikir ).

Aturan, standar, serta pedoman adalah hasil dari pemikiran oleh orang-orang terdahulu atau di saat itu, maka seolah aneh saja, tentang adanya standar ganda yang menyuarakan “kebebasan berpikir” justru menentang pemikiran-pemikiran yang menganut aturan-aturan. Bukan kah pemikiran yang mengadopsi sejumlah aturan juga adalah hasil dari pemikiran.

Jika mereka ( red. Penganut Faham kebebasan berpikir ) konsisten dengan kebebasan berpikir, maka selayaknya anggapan bahwa aturan-aturan yang di buat adalah penjara kebebasan dalam berpikir, termasuk memenjarakan kebebasan berpikir juga.
Menganggap aturan dalam berfikir sebagai penjara yang padahal aturan itu sendiri juga hasil pemikiran, bukan kah itu artinya terjadinya standar ganda. Di sana jelas adanya ketidak konsistenan dalam pemikiran yang kebablasan.

Aturan sejatinya adalah panduan untuk menentukan standar berdasarkan kepentingan bersama, nilai positif dan maslahat orang banyak.

Kebebasan Berpikir Tetap Harus Memperhatikan Aturan.

Ada yang mengatakan kebebasan berpikir mempunyai nilai positif yang bisa di terima, di mana dengan kebebasan berpikir kita bisa melihat nilai positif dari orang-orang yang berbeda pemikiran dengan kita, saya pun menjadi heran! karena nilai positif atau baik dan buruk maupun benar dan salah justru tidak ada sangkut pautnya dengan kebebasan berpikir.

Apakah ? misalkan saya yakin bahwa satu tambah satu menghasilkan jumlah dua harus di rubah hanya karena ada ada yang mengatakan jumlah hasilnya tiga , atau saya harus mengatakan itu benar pendapat orang yang mengatakan hasilnya tiga, dan pendapat saya yang mengatakan dua juga benar, menurut persepsi masing-masing.

Tidak ada alasan membenarkan apa yang salah, karena kebenaran relatif itu hanya di katakan oleh orang yang tidak ingin salah, jika kebenaran itu relatif beranikah mereka ( yang menganggap kebenaran relatif ) mengatakan mencuri, memperkosa, membunuh dll itu benar, karena bisa saja kan pelakunya menganggap benar semua yang di kerjakan nya berdasarkan persepsi mereka. Atau berani kan mereka mengatakan bunuh diri itu di benarkan karena pelakunya mempunyai alasan yang menurutnya itu jalan terbaik.

Kebenaran itu tidak relatif, bahkan relatif itu sendiri punya garis besar sesuai kamus besar tata bahasa, kebenaran itu punya acuan bukan sebuah kebebasan yang siapa saja berhak mengatakan ini benar atau itu salah, begitu juga dalam berpikir selalu di sandarkan pada titik sebuah kebenaran, yang mana kebenaran itu sendiri mengacu pada acuan atau pedoman yang telah di tetapkan. Sementara menerima kebenaran dari yang berbeda pemikiran dengan kita adalah aturan dalam berpikir, jadi bukan karena “kebebasan berpikir”, justru dengan kebebasan berpikirlah maka orang berhak menolak, menghujat bahkan mengabaikan kebenaran dari orang lain, yang justru itu akan menutup arti kebenaran dari orang lain.

Antara Kebebasan Berpikir Dan Aturan Berpikir.

Kebebasan berpikir harus sejalan dengan aturan-aturan berpikir, hal tersebut agar tidak terjadi kerancuan dalam mengambil kesimpulan, hal tersebut juga agar kita bisa menggaris bawahi mana dan bagai mana kita mengaplikasikan pemikiran-pemikiran kita.

Banjar Masin, Ahmad Syaukani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *