Global Salafisme “Antara Gerakan dan Kekerasan”

Pada bagian ini kami ingin mempublikasikan sebuah makalah yang di tulis oleh seorang “Iffah Muzammil” Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Dalam makalahnya memang “iffah” banyak membahas seputar perkembangan kelumpuk salafi.

Global Salafisme “Antara Gerakan dan Kekerasan”

Pada bagian ini kami ingin mempublikasikan sebuah makalah yang di tulis oleh seorang “Iffah Muzammil” Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Dalam makalahnya memang “iffah” banyak membahas seputar perkembangan kelumpuk salafi. Menarik untuk kita pelajari dan menjadi sebuah bacaan yang mungkin bisa kita ambil beberapa kesimpulan.

Berikut di bawah beberapa kutipan yang ada dalam makalahnya;

Sebelum peristiwa 11 September 2001, salafisme belum menjadi topik perbincangan yang menarik. Di kalangan akademisi, topik mengenai fundamentalisme telah menjadi bahan penelitian semenjak pembunuhan mantan presiden Mesir, Anwar Sadat, pada tahun 1981, akan tetapi hanya sedikit sekali sarjana yang mempelajari salafisme, apalagi sebagai sebuah fenomena global, dengan pengecualian Gilles Kepel dan Reinhard Schulze.

 Jihadi Salafism merupakan istilah yang digunakan Gilles Kepel yang dieksplorasi pada tahun 1998 untuk menggambarkan gerakan salafi yang mulai mengembangkan kekerasan lewat slogan “jihad” selama pertengahan 1990-an. Menurut Kepel, Jihadi Salafism merupakan kombinasi antara penghormatan terhadap teks-teks suci dalam bentuk pemahaman yang paling literal dan komitmen berjihad melawan Amerika sebagai sasaran utamanya.

Sarjana lain yang mengkaji Islam modern dalam skala global adalah Oliver Roy yang menyatakan bahwa salafisme merupakan bagian dari neo-fundamentalisme bersama beberapa gerakan lain seperti Hizbut Tahrir.

Secara etimologis, kata “salaf” berarti “yang lampau”. Kata tersebut biasa dikontestasikan dengan kata “khalaf” yang makna harfiahnya adalah “yang belakangan”. Kata ini kemudian menjadi sebuah terminologi untuk menunjuk kepada generasi keemasan Islam, yakni tiga generasi pertama (para sahabat, tâbi‘în, dan tâbi‘ al-tâbi‘în) yang biasa disebut al-salaf al-sholih . Istilah ini merujuk pada hadist Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhârî yang berbunyi: khayr al-qurûn qarnî thumm al-ladhîn yalûnahum thumm al-ladhîn yalûnahum.

Secara umum, media massa atau buku-buku akademis belakangan ini menggunakan istilah salafisme untuk merujuk pada sebuah gerakan Islam yang intoleran, rigid, bahkan reaksioner.9 Dua pemikir Muslim, Jûrj Tharâbishî dan „Azîz al-Azmah, menggunakan istilah salafisme untuk menunjuk arus pemikiran atau kelompok yang anti-modernitas dan pembaruan. Pemikir lain seperti Muh}ammad „Âbid al-Jâbirî dan Fahmî Jad„ân menggunakan istilah ini untuk menunjuk pada setiap gerakan yang menjadikan al-Qur‟ân dan h } adîth sebagai sistematika pemikirannya.[news_box style=”1″ display=”tag” title=”Update Terkait Pepoler” category=”129″ tag=”134″ orderby=”popular” count=”10″ show_more=”on”]

Global Salafisme “Antara Gerakan dan Kekerasan”Anda bisa membaca karya makalah secara penuh dalam bentuk file pdf yang kami sertakan. Kami sengaja tidak menulisnya di halaman ini secara utuh untuk menghindari tuduhan cope-paste. Dan sengaja mempublikasikan dalam bentuk file pdf secara utuh tanpa sedikitpun melakukan perubahan atau editan. Karena bagaimana pun apa yang di tulis adalah sebuah karya tulisan yang menjadi hak milik penulisnya. Di dalamnya ada sisi ilmiyah yang mungkin harus melalui proses mengkajian. Jika anda punya bantahan tentang tulisan “penulis” silahkan mempublikasikan nya.

[button link=”https://pustaka.my.id/pdf/GLOBAL%20SALAFISME.pdf” align=”center” target=”_blank”]Global Salafisme “Antara Gerakan dan Kekerasan”[/button]

[news_box style=”1″ title=”Update Terkait Pepoler” category=”129″ tag=”null” orderby=”popular” show_more=”on” count=”20″]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *